Belanja online kini tidak lagi hanya soal mencari produk, membaca deskripsi, lalu menekan tombol checkout. Cara konsumen menemukan dan membeli barang semakin interaktif.

Salah satu perubahan yang paling terlihat adalah live commerce, yaitu aktivitas jual beli yang berlangsung melalui siaran langsung dan menggabungkan konten, interaksi, serta transaksi dalam satu pengalaman.

Di Indonesia, perkembangan live shopping semakin menarik perhatian pelaku usaha. Konsumen bisa menonton host mendemonstrasikan produk, bertanya melalui kolom komentar, melihat promo terbatas, lalu melakukan pembelian tanpa harus keluar dari ekosistem platform.

Bagi pebisnis, kondisi tersebut bukan hanya menciptakan cara baru berjualan. Di belakangnya tumbuh berbagai jenis pekerjaan dan bisnis pendukung.

Apa Itu Live Commerce?

Live commerce adalah model penjualan yang memanfaatkan siaran langsung untuk memperkenalkan dan menjual produk secara real time.

Berbeda dengan katalog biasa, komunikasi berlangsung dua arah.

Penonton dapat bertanya tentang ukuran, warna, fungsi, atau cara penggunaan produk. Host kemudian menjawab secara langsung.

Konsep ini membuat pengalaman belanja terasa lebih dekat seperti berada di toko fisik.

Live commerce juga menggabungkan hiburan dengan aktivitas jual beli. Karena itu, keberhasilan sebuah sesi live tidak hanya ditentukan oleh produknya, tetapi juga kualitas penyampaian, interaksi, penawaran, dan kemampuan host mempertahankan perhatian penonton.

Mengapa Live Commerce Menarik bagi Bisnis?

Salah satu kekuatannya adalah kemampuan menggabungkan discovery dan transaksi.

Calon konsumen tidak harus sudah mengetahui produk sebelum masuk ke live. Mereka bisa menemukan barang karena melihat konten atau siaran yang menarik.

Model ini cocok untuk produk yang membutuhkan demonstrasi.

Misalnya kosmetik, pakaian, makanan, perlengkapan rumah, gadget, aksesori, hingga berbagai produk UMKM.

Data pasar 2026 menunjukkan social commerce Indonesia terus berkembang, sementara laporan industri yang terbit sepanjang 2026 juga menempatkan livestreaming sebagai salah satu saluran penting dalam perjalanan belanja digital.

Peluang Bisnis Pertama: Menjadi Host Live Shopping

Tidak semua pemilik usaha percaya diri tampil di depan kamera.

Mereka memiliki produk, tetapi kesulitan menjelaskan dan menjualnya secara langsung.

Inilah peluang menjadi host live shopping.

Host bertugas mempresentasikan produk, membaca komentar, menjawab pertanyaan, menjaga suasana siaran, serta mengarahkan penonton menuju pembelian.

Host yang bagus tidak harus selalu berteriak atau menggunakan gaya berlebihan.

Yang lebih penting adalah mampu berbicara dengan jelas, memahami produk, cepat merespons, dan membuat penonton merasa nyaman.

Peluang Kedua: Jasa Pengelola Live Commerce

Tidak semua bisnis membutuhkan satu orang saja.

Sebuah sesi live bisa melibatkan host, operator, moderator, admin, editor, dan orang yang menangani produk.

Dari sini muncul peluang jasa pengelolaan live commerce.

Penyedia jasa dapat menawarkan paket lengkap mulai dari persiapan rundown, penataan produk, pengaturan jadwal, moderasi komentar, hingga evaluasi hasil siaran.

Model ini menarik bagi UMKM yang ingin mencoba live selling tetapi belum mempunyai tim sendiri.

Peluang Ketiga: Jasa Produksi dan Setup Live Streaming

Semakin serius bisnis menjalankan live, kebutuhan teknis pun meningkat.

Siaran berjam-jam membutuhkan pencahayaan, audio, kamera atau smartphone, tripod, koneksi stabil, hingga pengaturan ruang.

Dari kebutuhan tersebut, muncul peluang jasa setup live streaming.

Penyedia jasa dapat membantu bisnis menata sudut ruangan, memasang lampu, mengatur audio, melakukan pengujian, dan memastikan peralatan siap digunakan.

Tidak harus langsung membuat studio besar.

Pasar UMKM justru bisa menjadi titik awal yang menarik.

Peluang Keempat: Menjual Perlengkapan Live Selling

Tren live commerce juga menciptakan pasar bagi produk pendukung.

Contohnya:

  • Lampu untuk live streaming.
  • Mikrofon.
  • Tripod.
  • Holder smartphone.
  • Background.
  • Meja display.
  • Teleprompter.
  • Audio interface.
  • Webcam.
  • Peralatan pendukung studio.

Penjual dapat membuat bundling khusus untuk pemula.

Misalnya, satu paket berisi lampu, tripod, microphone, dan holder.

Produk seperti ini lebih mudah dipasarkan jika disertai edukasi mengenai cara penggunaannya.

Peluang Kelima: Bisnis Affiliate

Affiliate menjadi salah satu bagian penting dalam ekosistem social commerce.

Alih-alih menyimpan stok barang sendiri, affiliate dapat mempromosikan produk milik seller dan memperoleh komisi sesuai program yang berlaku.

Untuk kreator konten, model ini menarik karena tidak selalu membutuhkan toko sendiri.

Kunci keberhasilannya bukan hanya jumlah followers.

Konten yang relevan, tingkat kepercayaan audiens, kemampuan memilih produk, dan cara menyampaikan rekomendasi sangat menentukan.

Affiliate yang hanya mengejar semua produk viral dapat kehilangan kredibilitas.

Peluang Keenam: Jasa Membuat Konten Pendukung Live

Live commerce tidak dimulai ketika tombol “Live” ditekan.

Sebelumnya, bisnis harus membuat pengumuman, teaser, video pendek, thumbnail, poster, dan konten pengingat.

Di sinilah jasa content creator memiliki peluang.

Satu sesi live bisa menghasilkan banyak materi.

Potongan menarik dari live dapat diubah menjadi video pendek. Pertanyaan penonton bisa menjadi konten edukasi. Produk yang paling banyak ditanyakan bisa dibuatkan video khusus.

Artinya, satu event live dapat diperpanjang umur kontennya.

Peluang Ketujuh: Jasa Admin dan Moderator

Host tidak bisa melakukan semuanya sendiri.

Ketika komentar semakin banyak, diperlukan orang yang membaca pertanyaan, mencatat permintaan, mengingatkan promo, dan membantu menjaga alur komunikasi.

Pekerjaan tersebut dapat dilakukan oleh admin live shopping atau moderator.

Keuntungannya, pekerjaan dapat dilakukan secara remote untuk beberapa bagian tertentu, tergantung sistem yang digunakan oleh seller.

Bagi freelancer, ini bisa menjadi layanan tambahan yang cukup menarik.

Peluang Kedelapan: Membuka Studio Live Commerce

Jika pasar sudah terbentuk, bisnis dapat naik ke level berikutnya.

Studio live commerce dapat disewakan kepada seller yang belum memiliki tempat untuk siaran.

Fasilitas dapat berupa:

Ruang shooting

Lighting

Kamera

Audio

Background

Meja display

Internet

Operator

Model bisnisnya bisa menggunakan tarif per jam, per sesi, atau paket bulanan.

Namun, lokasi dan biaya operasional harus dihitung secara cermat.

Jangan Terjebak Hanya Mengejar Penonton

Jumlah penonton memang terlihat menarik.

Tetapi bisnis perlu memperhatikan metrik yang lebih dekat dengan penjualan.

Misalnya:

Berapa orang yang bertanya?

Berapa yang menambahkan produk?

Berapa yang melakukan checkout?

Produk mana yang paling sering ditanyakan?

Pada titik mana penonton mulai meninggalkan live?

Data tersebut membantu bisnis mengetahui apakah siaran hanya ramai atau benar-benar menghasilkan transaksi.

Produk Menentukan Gaya Live

Tidak semua produk harus dijual dengan gaya yang sama.

Produk fashion mungkin membutuhkan demonstrasi pemakaian.

Kosmetik membutuhkan demonstrasi dan penjelasan.

Makanan membutuhkan visual yang menggugah selera.

Elektronik membutuhkan penjelasan fitur.

Peralatan rumah membutuhkan demonstrasi fungsi.

Karena itu, strategi live harus menyesuaikan karakter produk.

Buat Rundown Sebelum Siaran

Live tanpa persiapan dapat cepat kehilangan arah.

Sebelum mulai, buat rundown sederhana:

Pembukaan

Sapa penonton dan jelaskan tema live.

Perkenalan Produk

Tunjukkan barang dan manfaat utamanya.

Demonstrasi

Gunakan produk secara langsung jika memungkinkan.

Tanya Jawab

Jawab pertanyaan penonton.

Promo

Sampaikan penawaran yang sedang berlaku sesuai ketentuan platform.

Penutup

Arahkan penonton pada langkah berikutnya.

Rundown tidak perlu kaku. Fungsinya hanya menjaga siaran tetap terarah.

Gunakan Konten Pendek untuk Mengundang Penonton

Jangan berharap penonton tiba-tiba datang.

Buat teaser sebelum live.

Contohnya:

“Jam 8 malam kita bongkar produk baru.”

“Siapkan pertanyaan Anda malam ini.”

“Ada demo produk langsung.”

Video pendek juga dapat digunakan untuk mengingatkan bahwa siaran akan berlangsung.

Dengan demikian, live menjadi bagian dari strategi konten, bukan aktivitas yang berdiri sendiri.

Manfaatkan AI untuk Persiapan Konten

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan.

Misalnya membuat variasi hook, menyusun draft rundown, membuat daftar pertanyaan pelanggan yang mungkin muncul, atau mengembangkan ide konten promosi.

Namun, informasi produk tetap harus diperiksa.

Jangan menggunakan AI untuk membuat klaim produk yang tidak benar.

Pada live commerce, kesalahan informasi dapat langsung diketahui penonton.

Jangan Mengandalkan Diskon Terus-Menerus

Potongan harga memang dapat menarik perhatian.

Tetapi bisnis yang terlalu bergantung pada diskon dapat kesulitan menjaga margin.

Cobalah menawarkan alasan lain untuk membeli.

Misalnya demonstrasi produk, bundle, bonus yang memang tersedia, edukasi penggunaan, atau layanan purna jual.

Live commerce seharusnya membangun hubungan dengan pelanggan, bukan hanya memaksa transaksi.

Perhatikan Etika dan Kepercayaan

Host sebaiknya tidak membuat klaim palsu.

Jangan mengatakan produk “paling murah di Indonesia” jika tidak bisa dibuktikan.

Jangan membuat stok palsu.

Jangan memberikan informasi garansi yang tidak sesuai.

Jangan menyembunyikan kekurangan produk.

Penonton semakin mudah membandingkan informasi.

Sekali kepercayaan rusak, bisnis bisa kehilangan pelanggan dalam jangka panjang.

Strategi untuk UMKM: Mulai Kecil

UMKM tidak perlu langsung melakukan live selama berjam-jam.

Mulailah dengan sesi yang lebih pendek.

Uji beberapa jenis produk.

Catat pertanyaan penonton.

Perhatikan jam dengan interaksi terbaik.

Ukur produk mana yang mendapatkan perhatian.

Kemudian lakukan perbaikan.

Metode tersebut lebih aman daripada langsung mengeluarkan biaya besar untuk peralatan yang belum tentu diperlukan.

Peluang Besar untuk Ekosistem Pendukung

Menariknya, yang diuntungkan dari pertumbuhan live commerce bukan hanya seller.

Ada host.

Ada affiliate.

Ada editor video.

Ada admin.

Ada moderator.

Ada fotografer.

Ada videografer.

Ada penyedia studio.

Ada penjual perlengkapan live.

Ada konsultan.

Ada agensi digital.

Dengan kata lain, live shopping menciptakan sebuah ekosistem bisnis yang lebih luas daripada sekadar aktivitas jualan saat siaran berlangsung.

Kesimpulan

Live commerce semakin berkembang menjadi bagian penting dari perdagangan digital karena menggabungkan konten, interaksi langsung, dan transaksi.

Bagi pelaku usaha, peluangnya tidak hanya berada pada menjual produk melalui live streaming.

Ada banyak bisnis pendukung yang bisa ikut tumbuh.

Mulai dari menjadi host, membuka jasa admin dan moderator, menyediakan setup live, menjual perlengkapan, menjadi affiliate, membuat konten, hingga membuka studio live commerce.

Kunci untuk masuk ke pasar ini bukan sekadar membeli kamera atau mengikuti tren.

Pahami perilaku penonton, kuasai produk, buat siaran yang terstruktur, ukur hasilnya, dan terus lakukan perbaikan.

Live commerce mungkin terlihat sederhana dari layar smartphone.

Tetapi di balik satu sesi live yang berhasil, terdapat sebuah ekosistem bisnis yang cukup besar.

Bagi orang yang mampu mengambil peran di dalam ekosistem tersebut, gelombang live commerce bukan hanya sesuatu untuk ditonton.

Itu bisa menjadi peluang untuk membangun bisnis baru.

Baca juga artikel ini: NOYA X 80 PROOF PIK 2: Superclub Baru di PIK 2 dengan Standar Hiburan Kelas Dunia

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *